Blogger Widgets

Sabtu, 19 September 2015

20 September ku



“Ma, apa perayaan ulang tahun itu penting?” Aku bertanya pada Mama.
Mama memandangku lembut, mengusap rambut poniku yang mulai acak-acakan.
“Bang Heri selalu merayakannya Ma dan dapat kado.” Aku kembali mencerocos tanpa memberi jeda pada Mama untuk menjelaskan.
“Sayang, ulang tahun itu hanya simbol. Kelak jika engkau sudah dewasa pasti mengerti arti sesungguhnya ulang tahun. Jadi pengen kado ceritanya anak Mama.” Mama mencium keningku lembut. Aku manggut patah-patah dalam hati aku ingin seperti Bang Heri yang bisa memotong kue dan mendapat kado.

***
Setelah percakapan itu tepat diusiaku yang ke- 7 tahun, orangtuaku mengadakan acara syukuran persis seperti hari ini tanggal 20 September. Saat itu aku belum mengerti. Ruang tamu rumahku diberi balon-balon dan sejenisnya, Mama juga sibuk membuatkan kue sedangkan para sepupu dan bibik menyiapkan undangan berukuran kecil. 
Tiba-tiba Mama membisikan kalimat manis di telingaku. “Selamat ulang tahun sayang, semoga jadi anak sholehah ya. Cuman ini kado dari Mama sama Ayah.” Aku melirik Mama yang masih jongkok di sampingku. Tersenyum. Mencium Mama. Lama.
 
Acara syukuran itu berjalan meriah, teman-teman kecilku datang berduyun-duyun dan pulang membawa souvenir di tangan masing-masing. Bahagianya bisa melihat kotak-kotak manis yang mereka berikan. Pasti Bang Heri sebahagia ini dulu. Aku menerawang sepupuku yang satu itu, ulang tahunnya berkali-kali selalu dirayakan. 

Ayah dan Mama memelukku erat mengucapkan pengaharap-pengaharapan untuk putri kecilnya, mencium dan memelukku berkali-kali, hingga aku tahu bagitu indahnya masa itu, 20 tahun yang lalu.

***
Hari ini tepat 20 September 2015, Syukur tiada tara hingga 22 tahun ini Tuhan masih memberikan nafas, nikmat, bahkan kebahagian padaku.  Rasanya masih belum lepas ingatanku bagaimana dulu aku pernah melewati sweetseventeen, bagaimana dulu aku pernah menerima kado-kado kecil dan minta dirayakan ulang tahun seperti saudara sepupuku. Masih terasa. 

Hari ini aku mengerti ucapan Mama belasan tahun silam. Apa arti sesugguhnya dari kata ulang tahun. Iya itu hanya sebuah simbol ucapan. Sejatinya usia ini berkurang dari kontrak hidup yang diberikan saat roh ini baru ditiupkan. 

Berusaha menguatkan sudut-sudut mata agar air mata benat-benar tidak mengalir dan aku tidak bisa. 22 tahun dengan segala harapan dan mimpi semua masih terasa hambar, belum manis terasa untuk disuguhkan pada 2 orang tua yang begitu berjasa dalam rekaman hidupku.  

Kedua orang tua yang jauh di sana. Aku yakin hari ini ribuan do’a mereka panjatkan untuk ku di sini, agar putri pertamanya ini bisa memujudkan semua harapan dan mimpi-mimpinya selama ini dan itu adalah kado yang luar biasa dari apapun. Hanya do’a dan keihlasan atas segala kesalahan jauh lebih bermakna. 

            Terimakasih untuk seluruh do’a dari seluruh orang-orang yang mendo’akan, semoga apa yang dihadiahkan melalui do’a yang baik akan kembali baik pada kalian semua.


Malang, 20 Sepetember 2015



*sumber gambar http://www.polyvore.com/cgi/img thing?.out=jpg&size=l&tid=16395394







Selasa, 18 Agustus 2015

Untuk Apa Kita Hidup?

What For in This World?

 
Pagi itu kami berjalan menuju pasar Merjosari pelan sembari menikmati udara segar kota Malang. 



Kami benar-benar menikmati perjalanan pagi itu, gelak tawa turut menemani langkah kami.
Kami sibuk bercerita tentang ini, itu, hingga kemudian tertawa. Teman ku ini selalu menjawab setiap percakapan 
yang kusampaikan, ah dia patner yang tepat jika diajak bercanda.  “Masih lama kah perjalanan kita Han?” Temanku bertanya dengan polos padaku.

“Ah dikau ini, kita sudah sering berjalan kaki dari Tatasurya menuju Merjosari.” Aku mencibirkan bibirku.


“Hahaha, barangkali ada Andong tiba-tiba singgah dan dengan baik hati menyuruh kita naik ke atasnya.” Temanku mendekap kedua tangan seperti putri yang berharap kedatangan kuda putih di dalam dogeng.


“Ngarep banget, jalan kaki begini lebih sehat  walaupun akhirnya ngos-ngosan.” Aku menjawab dengan penuh semangat sembari menepuk pundaknya.


5 Menit kami terdiam, sibuk dengan keinginan mata kami untuk melihat pemandangan di sekitar.
 ...............................


“Untuk apa ya kita hidup?” Aku membuka pertanyaan memandang lepas jalanan di hadapanku.


Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa maatii lilahi robbil-‘aalamiin.” Teman ku tiba-tiba menjawab dengan lembut dan seketika aku menoleh kearahnya.


“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah.” Aku mengartikan sepenggal doa iftitah  yang ia baca.


 “Itulah kita hidup Han. Kita Hidup hanya untuk Allah. Niat Han, niat yang harus diluruskan dalam setiap langkah. Mungkin kita pernah merasa berbeda saat kita shalat, saat kita belajar hanya diniatkan untuk hal-hal berbau dunia dengan ketika kita meniatkannya untuk Allah?” Ia memandangku, mengharap jawaban dari bibirku.


“Ia, terasa lebih indah jika semua diniatkan untuk Allah. Lebih ikhlas saat tiba-tiba terjatuh.” Aku menjawab tegas pertanyaan.


Teman ku tersenyum dan melanjutkan langkahnya lebih dariku sembari menepuk pundakku.

...........

Ah, padahal setiap shalat doa iftitah itu selalu dibaca. Kadang kita terlalu sibuk hingga shalat kita tergesa-gesa. Hingga bait indah di antara doa iftitahpun tidak diresapi.


Naif rasanya di antara banyak keinginan dan pengaharapan pada Sang Ilahi Rabbi tapi kita selalu lupa meluruskan niat kita.


Yuk Luruskan niat!

......................

Untuk apa kita hidup jawabannya adalah Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa maatii lilahi robbil-‘aalamiin  (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah).

Terimakasih untuk percakapan bermakna ini Ihla 


Malang, 18 Agustus 2015


Sumber gambar:   Dokumen Pribadi








Minggu, 16 Agustus 2015

Dirgahayu Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia kita



Happy Independence day

Indonesia ...........




17 Agustus tahun 45...
Itulah hari kemerdekaan kita...
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia..
Merdeka....
Sekali merdeka tetap merdeka...
Selama hayat masih dikandung badan..........
................

Ada yang ingat sepenggal lagu di atas?
Ya itu lagu 17 Agustus yang sering dinyanyikan tepat dihari jadi Indonesia..
Istilah seperti lagu happy birthday saat perayaan ulang tahun mu........

.................
Sore tadi aku tiba-tiba saja termenung mengingat kalau besok adalah hari 17 Agustus, memoriku berjalan mengingat masa-masa saat aku masih mengenakan seragam sekolah. Ya memori sakral 1 tahun sekali yaitu upacara memperingati hari jadi Indonesia tidak pernah absen kami ikuti.

Saat itu kami berdiri berbaris rapi, seraya mengikuti upacara bendera dengan khidmat disebuah stadion di kotaku saat itu. Hentakan kaki para Paskibraka turut mengiringi upacara. Ada perasaan haru saat bendera mulai dinaiki, saat para paduan suara menyanyikan lagu kebangsaan dan dilanjutkan dengan lagu 17 Agustus.

Lamunanku terhenti saat aku mengingat usia kemerdekaan negeri ini ya... 70 tahun sudah negeri ini merdeka...
Ada rasa sedih menggumpal, iya sedih.
Aku sedih dan takut jika di belahan ruang di negeri ini masih ada orang yang tidak peduli akan arti Dirgahayu ini.
......................

Teruntuk Indonesiaku........
Selamat ulang tahun kemerdekaan yang ke 70.......
Maaf............
Kami belum bisa memberi kado terbaik untuk negeri ini..
Kami justru sering menyakiti mu....
Acapkali seusai peringatan 17 Agustus kami kembali membuat tanah pertiwi ini menangis.......

Alangkah perih jika para pejuang lalu tahu akan hal ini......
Tidak kah ingin kita berterimakasih untuk mereka...

Untuk negeri yang sudah sudi memberi ruang kosong untuk kita bangunkan rumah mewah......
Untuk negeri yang rela memberi tempat agar ada jalan raya yang bisa kita lewati dengan mobil mewah...
untuk negeri yang ikhlas memberikan pohon hijau, tanah subur untuk kita jadikan rupiah.......

Tidak inginkah?

Mari mempersembahkan kado yang baik untuk negeri ini!
............
Malang, 16 Agustus 2015


*Sumber gambar : Dokumen pribadi