“Ma, apa perayaan
ulang tahun itu penting?” Aku bertanya pada Mama.
Mama memandangku lembut, mengusap rambut
poniku yang mulai acak-acakan.
“Bang Heri
selalu merayakannya Ma dan dapat kado.” Aku kembali mencerocos tanpa memberi
jeda pada Mama untuk menjelaskan.
“Sayang, ulang
tahun itu hanya simbol. Kelak jika engkau sudah dewasa pasti mengerti arti
sesungguhnya ulang tahun. Jadi pengen kado ceritanya anak Mama.” Mama mencium
keningku lembut. Aku manggut patah-patah dalam hati aku ingin seperti Bang Heri
yang bisa memotong kue dan mendapat kado.
***
Setelah
percakapan itu tepat diusiaku yang ke- 7 tahun, orangtuaku mengadakan acara
syukuran persis seperti hari ini tanggal 20 September. Saat itu aku belum
mengerti. Ruang tamu rumahku diberi balon-balon dan sejenisnya, Mama juga sibuk
membuatkan kue sedangkan para sepupu dan bibik menyiapkan undangan berukuran kecil.
Tiba-tiba Mama membisikan kalimat manis di telingaku. “Selamat ulang
tahun sayang, semoga jadi anak sholehah ya. Cuman ini kado dari Mama sama Ayah.”
Aku melirik Mama yang masih jongkok di sampingku. Tersenyum. Mencium Mama. Lama.
Acara syukuran
itu berjalan meriah, teman-teman kecilku datang berduyun-duyun dan pulang
membawa souvenir di tangan
masing-masing. Bahagianya bisa melihat kotak-kotak manis yang mereka berikan.
Pasti Bang Heri sebahagia ini dulu. Aku menerawang sepupuku yang satu itu, ulang
tahunnya berkali-kali selalu dirayakan.
Ayah dan Mama memelukku erat
mengucapkan pengaharap-pengaharapan untuk putri kecilnya, mencium dan memelukku
berkali-kali, hingga aku tahu bagitu indahnya masa itu, 20 tahun yang lalu.
***
Hari ini tepat
20 September 2015, Syukur tiada tara hingga 22 tahun ini Tuhan masih memberikan
nafas, nikmat, bahkan kebahagian padaku. Rasanya masih belum lepas ingatanku bagaimana
dulu aku pernah melewati sweetseventeen,
bagaimana dulu aku pernah menerima kado-kado kecil dan minta dirayakan ulang tahun
seperti saudara sepupuku. Masih terasa.
Hari ini aku
mengerti ucapan Mama belasan tahun silam. Apa arti sesugguhnya dari kata ulang
tahun. Iya itu hanya sebuah simbol ucapan. Sejatinya usia ini berkurang dari
kontrak hidup yang diberikan saat roh ini baru ditiupkan.
Berusaha menguatkan
sudut-sudut mata agar air mata benat-benar tidak mengalir dan aku tidak bisa.
22 tahun dengan segala harapan dan mimpi semua masih terasa hambar, belum manis
terasa untuk disuguhkan pada 2 orang tua yang begitu berjasa dalam rekaman
hidupku.
Kedua orang
tua yang jauh di sana. Aku yakin hari ini ribuan do’a mereka panjatkan untuk ku
di sini, agar putri pertamanya ini bisa memujudkan semua harapan dan
mimpi-mimpinya selama ini dan itu adalah kado yang luar biasa dari apapun.
Hanya do’a dan keihlasan atas segala kesalahan jauh lebih bermakna.
Terimakasih
untuk seluruh do’a dari seluruh orang-orang yang mendo’akan, semoga apa yang
dihadiahkan melalui do’a yang baik akan kembali baik pada kalian semua.
Malang, 20 Sepetember 2015
*sumber
gambar http://www.polyvore.com/cgi/img
thing?.out=jpg&size=l&tid=16395394
