Blogger Widgets

Kamis, 13 Agustus 2015

Desember Ceria



Aku, Kamu dan LKTI 



Karya Tulis Ilmiah atau yang disingkat KTI sering sekali kita dengar mulai dari siswa menengah atas hingga perguruan tinggi. 

bicara tentang KTI ada banyak kenangan di dalamnya. 
Seperti ceritaku tahun lalu. Semoga menginspirasi :)

Desember 2014 Lalu...........

“Han, yuk ikut LKTI di Unesa.” Suara temanku Santi mengejutkan aku yang tengah asik nonton.
“Eh, kapan?” Aku melepaskan earphone yang nangkring di telingaku.
“Finalnya tanggal 10 Desember ini.” Santi menantapku.
Aku diam, mengingat-ingat kesibukanku yang masih bergulat dengan praktikum dan teman-temannya.
‘Hani?”Santi ternyata masih menunggu jawabanku.
“Oke, kapan kita mulai membuatnya. Nanti malam?” Aku menjawab tegas tawaran temanku yang berasal dari jurusan bahasa Indonesia tersebut.
“Iya, nanti malam.” Santi mengiyakan pertanyaanku.

Dan akhirnya, kamipun bergulat dengan pembuatan LKTI. Prosesnya begitu singkat dengan berbekal koneksi internet dan buku-buku refrensi, kami lembur dan tidur di perpustakaan asrama. Jangan ditanya yang namanya nyamuk udah jadi teman ketiga kami berdua.
Alhasil... LKTI selesai dan siap disetor kepembimbing dengan judul “I_Kon ml_Avis” (Implementasi Konsep Mobile Learning Audio Visual) For School Phobia.

Karena LKTI ini dikerjakan lintas jurusan, Santi Wahyufi yang mahasiswa jurusan bahasa indonesia FKIP sedangkan aku mahasiswa jurusan biologi FMIPA  menyebabkan kami bingung menentukan KAJUR mana yang akan menandatangani LKTI tersebut.  Hingga setelah berdiskusi akhirnya kami memilih FKIP sebagai fakultas yang membantu kelancaran proses LKTI ini dengan dibimbing Ibu Dr. Hj. Dyah Werdiningsih, M. Pd akhirnya LKTI kami siap dikirim bagian kemahasiswaan Universitas Islam Malang.
.......................
Sambil menunggu pengumuman LKTI tersebut, tak henti-henti kami berdua berdo’a agar LKTI kami dapat lolos dan dipresentasikan di Surabaya. Aku akui Santi Wahyufi sosok yang aku kenal 4 tahun lalu, dimana saat itu kami sama-sama santri baru di asrama tempat kami kenal. Perkenalan kami dimulai saat penempatan kamar dan kami dinobatkan satu kamar saat itu. 

Belum terlalu banyak mengenalnya, saat memasuki semester 3 kami memutuskan pindah kamar untuk mencari suasana baru. Baru setelah memasuki semester 5 kami mulai akrab kembali dengan bermacam-macam cerita, mimpi-mimpi dan harapan-harapan kami yang ternyata memiliki kesamaan. Kami jadi sering bertukar cerita, cerita mimpi-mimpi kami, patah hati dan banyak lagi. Sosok satu ini luar biasa semangatnya, entah macam apalah dia memupuk semangat seperti selalu berkobar.
...................
6 Desember 2014

“Han, ayo kita lihat pengumuman!” Santi menarik tanganku
“Ah, kamu aja San. Aku takut.” Aku menolak Santi. Jujur aku takut melihat pengumuman itu.
Hampir 1 jam Santi berusaha melihat penguman LKTI tersebut namun sepertinya ada sistem yang salah hingga akhirnya iya menyerah dan memilih menenangkan diri dengan tidur.
.......................
Aku mencoba mengotak atik halaman pengumuman LKTI dari UNESA tersebut, ntah bagaimana prosesnya tiba-tiba saja bisa terdownload. Pelan-pelan aku buka hasil pengumunan. Bolak-balik aku mencari nama kami hingga mataku berhenti pada urutan no 7. Ya nama kami ada di sana.
Aku berlari, bergegas membangunkan Santi. Mengabarkan kegembiraan yang aku yakin sangat iya nantikan.
..................
10 Desember 2014

Kami berangkat dengan 1 tim lain dari universitas yang sama..............
Kami mempersiapkan apa yang harus kami siapkan saat presentasi, mencoba mempersembahkan yang terbaik untuk kampus tercinta.
Hingga saat pengumuman final dicetuskan. Jatung kami tidak berhenti berolahraga, deg-degkan tak karuan.
Dan..........Kami belum bisa mempersembahkan urutan terbaik saat itu.

Kecewa? Ya pasti ada....
Tapi....masuk dalam ajang ini dan bisa andil dalam 10 besar adalah sebuah kebahagian yang mampu membalas kecewa yang kami rasa.
Bukan, bukan juara yang kami cari tapi pengalaman. Karena pengalaman jauh lebih bermakna.
Dari sana kami belajar bagaimana presentasi yang baik, kami belajar menghargai pendapat satu sama lain dan kami belajar berjuang mewujudkan 1 mimpi kami. 
Mengukir pengalaman sebelum kami meninggalkan universitas.
Setidaknya kami punya cerita, kelak saat kami sudah melangkah jauh....

..............................
Teruntuk Ibu Dr. Hj. Dyah Werdiningsih, M. Pd terimakasih telah memberi ilmu yang bermanfaat ini menerima saya menjadi bimbingan ibu meski dari fakultas yang berbeda.
teruntuk  Ibu Ambar terimakasih telah menemani kami dan menyemangati di ruangan.
Teruntuk Santi Wahyufidingsih, terimakasih telah percaya pada saya untuk ikut dalam ajang ini. Terimakasih motivasinya ........ 
......................

Menjelajahlah sejauh mungkin karena ditengah penjelajahan itu, akan kita temukan banyak pengalaman dan pembelajaran.......
Terimakasih FKIP............

Malang, 14 Agustus 2014

Rabu, 12 Agustus 2015

Kembali Menggores Kertas

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSrrb6c6LR0HRvqYOFZqdkovAOOQJJEQZpV3IqYeBK2-g8aUdLUIQ
Ketika ditanya masalah hobby, apa yang terlintas di benak teman-teman?
Mungkin ada diantara teman-teman yang cepat kilat menjawab, “hobby saya main bola” atau “hobby saya menyanyi” dan masih banyak lagi.
Banyak sekali bukan?, ya hobby begitu banyak. Kadar penilaiannya adalah seberapa sering kita melakukannya.

Suatu ketika seorang teman bertanya, “Hobby kamu apa Han?”
Saat itu yang ada di fikiranku hanya ada dua hal yaitu membaca dan menulis. Spontan aku langsung menjawab pertanyaan temanku.
“berarti tulisanmu banyak Han?” Pertanyaan kedua muncul kembali dari mulut temanku, pertanyaan ini seakan memanah aktivitas ku saat itu dan lebih memilih menatapnya.

Diam.....

“Belum.....” Aku menjawab pelan.
“Bukan kah hobby adalah suatu kegiatan yang sering dilakukan Han? Seharusnya tulisanmu sudah harus banyak dimuat dimana-mana, dan dipajang di toko-toko buku?” Sepertinya temanku ini belum puas dengan jawabanku.
Aku mencoba mengatur nafas, berusaha setenang mungkin menjawabnya.
“Menulis adalah hobbyku, dimana ketika aku ditanya tetang hobby maka jawabanku adalah menulis. Iya, seharusnya jika hobbyku menulis maka selayaknya pula tulisan-tulisanku berbentuk, dimuat dimana-mana dan memberi banyak manfaat saat dibaca. Tapi.....” Jawabanku terputus.
“Tapi?” Temanku menanti jawabanku sambil menatap penuh harap.
“Tapi aku seperti menodai hobby ku sendiri, dengan beribu-ribu alasan seolah-olah hobby menulis ini hanya sebuah kata yang aku ucapkan saat ditanya tentang hobby. Aku masih belum mampu menciptakan banyak makna dari hobbyku, aku masih berselimut nyaman ketika banyak orang sudah berdiri di atas dengan ribuan mimpinya. Bahkan aku masih belum mampu menggores kertas dengan pena ku sendiri.” Aku menarik nafas panjang dan kurasakan air mata mulai menetes.
“Belum bukan berarti tidak akan pernah Han.” Suara lembut temanku berusaha menenangkan kegilasahan yang ada.

Aku menatapnya.......

“Maka bangkitlah angkat penamu, menggoreslah di atas kertas. Perjalanan mereka di puncak sana bukan tanpa perih luka, air mata. Maka jika dirimu melewati medan yang terjal nantinya, jangan berhenti. Lanjutkan! Hobby bukan sekedar hobby Han. Jadikan hobbymu bermakna untuk oranglain.” Temanku memeluk pundakku erat..........
Terimakasih teman untuk percakapan bermakna ini, termakasih telah mengingatkanku tentang makna kata hobby yang sering kuucapkan.
Dan kini mulailah kembali menggores kertas agar bermakna untuk orang lain.

Malang, 12 Agustus 2015

Sumber gambar : https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSrrb6c6LR0HRvqYOFZqdkovAOOQJJEQZpV3IqYeBK2-g8aUdLUIQ

Selasa, 11 Agustus 2015

Lebaranku Seindah Cincin Piranosa

Assalamualaikum Wa rahmatullahi Wa barakatuh

Salam Pena Bersayap.........

Masih terasa lekat  30 hari lalu kita menahan hawa nafsu yang berakhir dengan kumandang takbir diseantero dunia melalui pengeras suara pada tiap-tiap masjid. Terasa bagaimana airmata kita bercucur saat mendengarkan khutbah shalat id, terasa bagaimana sedihnya ketika harus meninggalkan tamu istimewa, padahal kita belum menjamunya dengan baik, dan terasa begitu cepat berlalu waktu yang kita lewati. Lebaran sebuah moment yang begitu berkesan setiap tahun. Ada banyak cerita di dalamnya. Seperti kisahku di lebaran tahun ini.

Sebulan sebelum memasuki bulan suci ramadhan, aku sedang bergulat dengan kesibukan menyelesaikan  “Skripsi” bahkan hingga memasuki bulan suci, aku masih berjuang untuk menyelesaikannya. Di tengah hiruk-pikuk skripsi, ternyata adik-adik tingkat bahkan teman seangkatan sibuk mengurusi barang-barang bawaan hingga tiket kepulangan ke kampung halaman, lagi-lagi aku belum terfikir akan lebaran dimana tahun ini.

Sampai pada satu titik, beberapa teman satu angkatan di pesantren sudah sidang skripsi. Bahkan satu-satu persatu sudah pulang ke kampung halaman masing-masing. Aku? bagaimana dengan aku? hingga memasuki minggu kedua bulan suci ramadhan baru tahap seminar akhir (SHP) yang aku lewati, ada banyak kendala rupanya. Lagi-lagi apa yang kita rencanakan terkadang bukan yang terbaik yang Allah Ridhoi, alhasil aku harus bersabar sampai menuggu mingu ke 3 bulan suci barulah skripsiku  bisa dipertanggungjawabkan di depan penguji. Lagi-lagi, setelah sidang aku masih bingung dan belum tahu harus lebaran dimana. Kebingunganku juga dirasakan oleh dua teman ku yang berasal dari Riau.

Aneh ya? Lebaran kok bingung dimana? Pastilah di rumah, berkumpul dengan keluarga, salam-salaman, makan ketupat yang pasangannya opor ayam dan nggak ketinggalan selfie bareng keluaraga. Namun kondisi nyatanya adalah saat H-7 aku masih belum terfikir untuk lebaran dimana. Alasannya adalah, rumahku yang jauh di pulau seberang “Kalimantan Barat”. Kondisi dan waktu memintaku bersabar untuk merayakan lebaran di tanah rantau. Hingga sudah mendekati H-5 salah satu teman di pesantren bernama Rahmawati menawarkan untuk lebaran di rumahnya, kebetulan saat itu temanku tersebut baru akan pulang. Setelah memberitahu kepada kedua orangtua, akhirnya aku dan dua orang temanku ikut berangkat untuk merayakan lebaran di Kota Lamongan. Kota yang dikenal dengan julukan kota Wingko.

Lebaran di Lamongan tak jauh berbeda dari lebaran di kota-kota lain. Pada hari terakhir puasa aku dan ke dua temanku membantu membuat ketupat menggunakan daun siwalan. Ya, aku akui saat itulah pertama kalinya aku membuat ketupat dan alhasil ketupat pertamaku jadi. Ah bahagianya, ketupat yang kami buat ternyata disuguhkan di hari lebaran. Tidak hanya membuat ketupat, kami juga diajak berkeliling di rumah-rumah tentangga  untuk bersilahturahmi dan berziarah ke makam Sunan Sendangduwur. Sebuah moment ziarah ke makam sunan yang jarang aku lakukan di Kalimantan. Jelas saja, jika tidak menginjakkan kaki di tanah jawa ini mungkin aku belum tentu bisa diberi umur  untuk berziarah ke makam Sunan Sendangduwur. Hingga rasanya tak layak jika aku tak bersyukur dengan nikmat dari Allah atas kondisiku saat itu.

Rasa sedih yang awalnya menyelimuti perasaanku berangsur-angsur membaik. Bahkan saat aku dihubungi oleh orang tuaku via handphone seusai shalat id, aku mampu menunjukan bahwa aku kuat dengan berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata sedikitpun. Lebaran tahun ini adalah lebaran penuh hikmah yang aku lalui, banyak pelajaran yang bisa aku ambil. Salah satunya adalah sabar, ya sabar. Perjalanan 30 hari sebelum hari raya mengajarkan kesabaran yang luar biasa. Bahkan hingga takbir berkumandang pukulan keras untuk tetap bersabar, sabar tanpa suara teriakan ibu menyuruh kami anak-anaknya untuk bergegas menuju ke masjid, hingga ziarah ke makam nenek-kakek beserta sanak keluarga yang tak bisa ku rasakan. Meski aku tahu, di sana, di pulau seberang keluargaku jauh lebih merasakan kesedihan dari sekedar kesedihan yang sering aku keluhkan.Ya, sabar dan syukur adalah point penting di moment lebaran tahun ini.

Meski hati kesemutan merasakan lebaran jauh dari orang tua namun lebaran kali ini mengajarkan banyak arti tentang makna dari sebuah arti fitri. Lebaran kali ini lagi-lagi begitu terasa seperti manis glukosa, bagai susunan cincin piranosa, lebaran kali ini begitu seadanya namun luar biasa terasa.


Malang, 11 Agustus 2015