Assalamualaikum Wa rahmatullahi Wa
barakatuh
Salam Pena Bersayap.........
Masih terasa lekat 30 hari lalu kita menahan hawa nafsu yang
berakhir dengan kumandang takbir diseantero dunia melalui pengeras suara pada
tiap-tiap masjid. Terasa bagaimana airmata kita bercucur saat mendengarkan
khutbah shalat id, terasa bagaimana sedihnya ketika harus meninggalkan tamu
istimewa, padahal kita belum menjamunya dengan baik, dan terasa begitu cepat
berlalu waktu yang kita lewati. Lebaran
sebuah moment yang begitu berkesan setiap tahun. Ada banyak cerita di dalamnya.
Seperti kisahku di lebaran tahun ini.
Sebulan sebelum memasuki bulan suci
ramadhan, aku sedang bergulat dengan kesibukan menyelesaikan
“Skripsi” bahkan hingga
memasuki bulan suci, aku
masih berjuang untuk menyelesaikannya. Di tengah hiruk-pikuk skripsi, ternyata adik-adik tingkat bahkan teman seangkatan sibuk mengurusi barang-barang bawaan hingga tiket kepulangan ke kampung halaman, lagi-lagi aku belum terfikir akan
lebaran dimana tahun ini.
Sampai pada satu titik, beberapa teman satu angkatan di pesantren sudah sidang skripsi. Bahkan satu-satu persatu sudah pulang ke kampung halaman masing-masing. Aku? bagaimana dengan aku? hingga memasuki minggu kedua bulan suci
ramadhan baru tahap seminar akhir (SHP) yang
aku lewati, ada banyak kendala rupanya. Lagi-lagi apa yang kita rencanakan
terkadang bukan yang terbaik yang Allah Ridhoi, alhasil aku harus bersabar
sampai
menuggu mingu ke 3 bulan suci barulah skripsiku bisa dipertanggungjawabkan di depan penguji. Lagi-lagi, setelah
sidang aku masih bingung dan belum tahu harus lebaran dimana. Kebingunganku
juga dirasakan oleh dua teman ku yang berasal dari Riau.
Aneh ya? Lebaran kok bingung dimana?
Pastilah di rumah, berkumpul dengan keluarga, salam-salaman, makan ketupat yang
pasangannya opor ayam dan nggak ketinggalan selfie bareng keluaraga. Namun kondisi nyatanya adalah saat H-7 aku masih belum terfikir untuk lebaran
dimana. Alasannya adalah,
rumahku yang jauh di pulau seberang “Kalimantan Barat”. Kondisi dan waktu
memintaku bersabar untuk merayakan lebaran di tanah rantau. Hingga sudah mendekati
H-5 salah satu teman di pesantren bernama Rahmawati menawarkan untuk lebaran di
rumahnya, kebetulan saat itu temanku tersebut baru akan pulang. Setelah memberitahu
kepada kedua orangtua, akhirnya aku dan dua orang temanku ikut berangkat untuk
merayakan lebaran di Kota Lamongan. Kota yang dikenal dengan julukan kota
Wingko.
Lebaran di Lamongan
tak jauh berbeda dari lebaran di kota-kota lain. Pada hari terakhir puasa aku
dan ke dua temanku membantu membuat ketupat menggunakan daun siwalan. Ya, aku
akui saat itulah pertama kalinya aku membuat ketupat dan alhasil ketupat
pertamaku jadi. Ah bahagianya, ketupat yang kami buat ternyata disuguhkan di
hari lebaran. Tidak hanya membuat ketupat, kami juga diajak berkeliling di
rumah-rumah tentangga untuk
bersilahturahmi dan berziarah ke makam Sunan Sendangduwur. Sebuah moment ziarah
ke makam sunan yang jarang aku lakukan di Kalimantan. Jelas saja, jika tidak
menginjakkan kaki di tanah jawa ini mungkin aku belum tentu bisa diberi umur untuk berziarah ke makam Sunan Sendangduwur. Hingga
rasanya tak layak jika aku tak bersyukur dengan nikmat dari Allah atas
kondisiku saat itu.
Rasa sedih yang
awalnya menyelimuti perasaanku berangsur-angsur membaik. Bahkan saat aku
dihubungi oleh orang tuaku via
handphone seusai shalat id, aku mampu menunjukan bahwa aku kuat dengan berusaha
untuk tidak mengeluarkan air mata sedikitpun. Lebaran tahun ini adalah lebaran
penuh hikmah yang aku lalui, banyak pelajaran yang bisa aku ambil. Salah
satunya adalah sabar, ya sabar. Perjalanan 30 hari sebelum hari raya
mengajarkan kesabaran yang luar biasa. Bahkan hingga takbir berkumandang pukulan
keras untuk tetap bersabar, sabar tanpa suara teriakan ibu menyuruh kami
anak-anaknya untuk bergegas menuju ke masjid, hingga ziarah ke makam
nenek-kakek beserta sanak keluarga yang tak bisa ku rasakan. Meski aku tahu, di
sana, di pulau seberang keluargaku jauh lebih merasakan kesedihan dari sekedar
kesedihan yang sering aku keluhkan.Ya, sabar dan syukur adalah point penting di
moment lebaran tahun ini.
Meski hati kesemutan merasakan lebaran jauh dari orang tua namun lebaran
kali ini mengajarkan banyak arti tentang makna dari sebuah arti fitri. Lebaran
kali ini lagi-lagi begitu terasa seperti manis glukosa, bagai susunan cincin
piranosa, lebaran kali ini begitu seadanya namun luar biasa terasa.
Malang, 11 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar