Blogger Widgets

Selasa, 11 Agustus 2015

Lebaranku Seindah Cincin Piranosa

Assalamualaikum Wa rahmatullahi Wa barakatuh

Salam Pena Bersayap.........

Masih terasa lekat  30 hari lalu kita menahan hawa nafsu yang berakhir dengan kumandang takbir diseantero dunia melalui pengeras suara pada tiap-tiap masjid. Terasa bagaimana airmata kita bercucur saat mendengarkan khutbah shalat id, terasa bagaimana sedihnya ketika harus meninggalkan tamu istimewa, padahal kita belum menjamunya dengan baik, dan terasa begitu cepat berlalu waktu yang kita lewati. Lebaran sebuah moment yang begitu berkesan setiap tahun. Ada banyak cerita di dalamnya. Seperti kisahku di lebaran tahun ini.

Sebulan sebelum memasuki bulan suci ramadhan, aku sedang bergulat dengan kesibukan menyelesaikan  “Skripsi” bahkan hingga memasuki bulan suci, aku masih berjuang untuk menyelesaikannya. Di tengah hiruk-pikuk skripsi, ternyata adik-adik tingkat bahkan teman seangkatan sibuk mengurusi barang-barang bawaan hingga tiket kepulangan ke kampung halaman, lagi-lagi aku belum terfikir akan lebaran dimana tahun ini.

Sampai pada satu titik, beberapa teman satu angkatan di pesantren sudah sidang skripsi. Bahkan satu-satu persatu sudah pulang ke kampung halaman masing-masing. Aku? bagaimana dengan aku? hingga memasuki minggu kedua bulan suci ramadhan baru tahap seminar akhir (SHP) yang aku lewati, ada banyak kendala rupanya. Lagi-lagi apa yang kita rencanakan terkadang bukan yang terbaik yang Allah Ridhoi, alhasil aku harus bersabar sampai menuggu mingu ke 3 bulan suci barulah skripsiku  bisa dipertanggungjawabkan di depan penguji. Lagi-lagi, setelah sidang aku masih bingung dan belum tahu harus lebaran dimana. Kebingunganku juga dirasakan oleh dua teman ku yang berasal dari Riau.

Aneh ya? Lebaran kok bingung dimana? Pastilah di rumah, berkumpul dengan keluarga, salam-salaman, makan ketupat yang pasangannya opor ayam dan nggak ketinggalan selfie bareng keluaraga. Namun kondisi nyatanya adalah saat H-7 aku masih belum terfikir untuk lebaran dimana. Alasannya adalah, rumahku yang jauh di pulau seberang “Kalimantan Barat”. Kondisi dan waktu memintaku bersabar untuk merayakan lebaran di tanah rantau. Hingga sudah mendekati H-5 salah satu teman di pesantren bernama Rahmawati menawarkan untuk lebaran di rumahnya, kebetulan saat itu temanku tersebut baru akan pulang. Setelah memberitahu kepada kedua orangtua, akhirnya aku dan dua orang temanku ikut berangkat untuk merayakan lebaran di Kota Lamongan. Kota yang dikenal dengan julukan kota Wingko.

Lebaran di Lamongan tak jauh berbeda dari lebaran di kota-kota lain. Pada hari terakhir puasa aku dan ke dua temanku membantu membuat ketupat menggunakan daun siwalan. Ya, aku akui saat itulah pertama kalinya aku membuat ketupat dan alhasil ketupat pertamaku jadi. Ah bahagianya, ketupat yang kami buat ternyata disuguhkan di hari lebaran. Tidak hanya membuat ketupat, kami juga diajak berkeliling di rumah-rumah tentangga  untuk bersilahturahmi dan berziarah ke makam Sunan Sendangduwur. Sebuah moment ziarah ke makam sunan yang jarang aku lakukan di Kalimantan. Jelas saja, jika tidak menginjakkan kaki di tanah jawa ini mungkin aku belum tentu bisa diberi umur  untuk berziarah ke makam Sunan Sendangduwur. Hingga rasanya tak layak jika aku tak bersyukur dengan nikmat dari Allah atas kondisiku saat itu.

Rasa sedih yang awalnya menyelimuti perasaanku berangsur-angsur membaik. Bahkan saat aku dihubungi oleh orang tuaku via handphone seusai shalat id, aku mampu menunjukan bahwa aku kuat dengan berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata sedikitpun. Lebaran tahun ini adalah lebaran penuh hikmah yang aku lalui, banyak pelajaran yang bisa aku ambil. Salah satunya adalah sabar, ya sabar. Perjalanan 30 hari sebelum hari raya mengajarkan kesabaran yang luar biasa. Bahkan hingga takbir berkumandang pukulan keras untuk tetap bersabar, sabar tanpa suara teriakan ibu menyuruh kami anak-anaknya untuk bergegas menuju ke masjid, hingga ziarah ke makam nenek-kakek beserta sanak keluarga yang tak bisa ku rasakan. Meski aku tahu, di sana, di pulau seberang keluargaku jauh lebih merasakan kesedihan dari sekedar kesedihan yang sering aku keluhkan.Ya, sabar dan syukur adalah point penting di moment lebaran tahun ini.

Meski hati kesemutan merasakan lebaran jauh dari orang tua namun lebaran kali ini mengajarkan banyak arti tentang makna dari sebuah arti fitri. Lebaran kali ini lagi-lagi begitu terasa seperti manis glukosa, bagai susunan cincin piranosa, lebaran kali ini begitu seadanya namun luar biasa terasa.


Malang, 11 Agustus 2015

Tidak ada komentar: