Ketika ditanya masalah hobby, apa yang terlintas di benak teman-teman?
Mungkin ada diantara teman-teman yang cepat kilat menjawab, “hobby
saya main bola” atau “hobby saya menyanyi” dan masih banyak lagi.
Banyak sekali bukan?, ya hobby begitu banyak. Kadar penilaiannya
adalah seberapa sering kita melakukannya.
Suatu ketika seorang teman bertanya, “Hobby kamu apa Han?”
Saat itu yang ada di fikiranku hanya ada dua hal yaitu membaca dan
menulis. Spontan aku langsung menjawab pertanyaan temanku.
“berarti tulisanmu banyak Han?” Pertanyaan kedua muncul kembali
dari mulut temanku, pertanyaan ini seakan memanah aktivitas ku saat itu dan
lebih memilih menatapnya.
Diam.....
“Belum.....” Aku menjawab pelan.
“Bukan kah hobby adalah suatu kegiatan yang sering dilakukan Han? Seharusnya
tulisanmu sudah harus banyak dimuat dimana-mana, dan dipajang di toko-toko
buku?” Sepertinya temanku ini belum puas dengan jawabanku.
Aku mencoba mengatur nafas, berusaha setenang mungkin menjawabnya.
“Menulis adalah hobbyku, dimana ketika aku ditanya tetang hobby maka
jawabanku adalah menulis. Iya, seharusnya jika hobbyku menulis maka selayaknya
pula tulisan-tulisanku berbentuk, dimuat dimana-mana dan memberi banyak manfaat
saat dibaca. Tapi.....” Jawabanku terputus.
“Tapi?” Temanku menanti jawabanku sambil menatap penuh harap.
“Tapi aku seperti menodai hobby ku sendiri, dengan beribu-ribu
alasan seolah-olah hobby menulis ini hanya sebuah kata yang aku ucapkan saat
ditanya tentang hobby. Aku masih belum mampu menciptakan banyak makna dari
hobbyku, aku masih berselimut nyaman ketika banyak orang sudah berdiri di atas
dengan ribuan mimpinya. Bahkan aku masih belum mampu menggores kertas dengan
pena ku sendiri.” Aku menarik nafas panjang dan kurasakan air mata mulai
menetes.
“Belum bukan berarti tidak akan pernah Han.” Suara lembut temanku
berusaha menenangkan kegilasahan yang ada.
Aku menatapnya.......
“Maka bangkitlah angkat penamu, menggoreslah di atas kertas.
Perjalanan mereka di puncak sana bukan tanpa perih luka, air mata. Maka jika dirimu
melewati medan yang terjal nantinya, jangan berhenti. Lanjutkan! Hobby bukan sekedar
hobby Han. Jadikan hobbymu bermakna untuk oranglain.” Temanku memeluk pundakku
erat..........
Terimakasih teman untuk percakapan bermakna ini, termakasih telah
mengingatkanku tentang makna kata hobby yang sering kuucapkan.
Dan kini mulailah kembali menggores kertas agar bermakna untuk
orang lain.
Malang, 12 Agustus 2015
Sumber gambar : https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSrrb6c6LR0HRvqYOFZqdkovAOOQJJEQZpV3IqYeBK2-g8aUdLUIQ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar