Blogger Widgets

Selasa, 18 Agustus 2015

Untuk Apa Kita Hidup?

What For in This World?

 
Pagi itu kami berjalan menuju pasar Merjosari pelan sembari menikmati udara segar kota Malang. 



Kami benar-benar menikmati perjalanan pagi itu, gelak tawa turut menemani langkah kami.
Kami sibuk bercerita tentang ini, itu, hingga kemudian tertawa. Teman ku ini selalu menjawab setiap percakapan 
yang kusampaikan, ah dia patner yang tepat jika diajak bercanda.  “Masih lama kah perjalanan kita Han?” Temanku bertanya dengan polos padaku.

“Ah dikau ini, kita sudah sering berjalan kaki dari Tatasurya menuju Merjosari.” Aku mencibirkan bibirku.


“Hahaha, barangkali ada Andong tiba-tiba singgah dan dengan baik hati menyuruh kita naik ke atasnya.” Temanku mendekap kedua tangan seperti putri yang berharap kedatangan kuda putih di dalam dogeng.


“Ngarep banget, jalan kaki begini lebih sehat  walaupun akhirnya ngos-ngosan.” Aku menjawab dengan penuh semangat sembari menepuk pundaknya.


5 Menit kami terdiam, sibuk dengan keinginan mata kami untuk melihat pemandangan di sekitar.
 ...............................


“Untuk apa ya kita hidup?” Aku membuka pertanyaan memandang lepas jalanan di hadapanku.


Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa maatii lilahi robbil-‘aalamiin.” Teman ku tiba-tiba menjawab dengan lembut dan seketika aku menoleh kearahnya.


“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah.” Aku mengartikan sepenggal doa iftitah  yang ia baca.


 “Itulah kita hidup Han. Kita Hidup hanya untuk Allah. Niat Han, niat yang harus diluruskan dalam setiap langkah. Mungkin kita pernah merasa berbeda saat kita shalat, saat kita belajar hanya diniatkan untuk hal-hal berbau dunia dengan ketika kita meniatkannya untuk Allah?” Ia memandangku, mengharap jawaban dari bibirku.


“Ia, terasa lebih indah jika semua diniatkan untuk Allah. Lebih ikhlas saat tiba-tiba terjatuh.” Aku menjawab tegas pertanyaan.


Teman ku tersenyum dan melanjutkan langkahnya lebih dariku sembari menepuk pundakku.

...........

Ah, padahal setiap shalat doa iftitah itu selalu dibaca. Kadang kita terlalu sibuk hingga shalat kita tergesa-gesa. Hingga bait indah di antara doa iftitahpun tidak diresapi.


Naif rasanya di antara banyak keinginan dan pengaharapan pada Sang Ilahi Rabbi tapi kita selalu lupa meluruskan niat kita.


Yuk Luruskan niat!

......................

Untuk apa kita hidup jawabannya adalah Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa maatii lilahi robbil-‘aalamiin  (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah).

Terimakasih untuk percakapan bermakna ini Ihla 


Malang, 18 Agustus 2015


Sumber gambar:   Dokumen Pribadi








Tidak ada komentar: