Pagi itu kami berjalan menuju pasar Merjosari pelan sembari menikmati udara segar kota Malang.
Kami benar-benar menikmati perjalanan pagi itu, gelak tawa turut menemani langkah kami.
yang kusampaikan, ah dia patner yang tepat jika diajak bercanda. “Masih lama kah perjalanan kita Han?” Temanku bertanya dengan polos padaku.
“Ah dikau ini, kita sudah sering
berjalan kaki dari Tatasurya menuju Merjosari.” Aku mencibirkan bibirku.
“Hahaha, barangkali ada Andong
tiba-tiba singgah dan dengan baik hati menyuruh kita naik ke atasnya.” Temanku
mendekap kedua tangan seperti putri yang berharap kedatangan kuda putih di
dalam dogeng.
“Ngarep banget, jalan kaki begini
lebih sehat walaupun akhirnya
ngos-ngosan.” Aku menjawab dengan penuh semangat sembari menepuk pundaknya.
5 Menit kami terdiam, sibuk dengan
keinginan mata kami untuk melihat pemandangan di sekitar.
...............................
“Untuk apa ya kita hidup?” Aku membuka
pertanyaan memandang lepas jalanan di hadapanku.
“Inna
shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa maatii lilahi robbil-‘aalamiin.” Teman
ku tiba-tiba menjawab dengan lembut dan seketika aku menoleh kearahnya.
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku,
hidupku dan matiku hanya untuk Allah.” Aku mengartikan sepenggal doa
iftitah yang ia baca.
“Itulah kita hidup Han. Kita Hidup hanya untuk
Allah. Niat Han, niat yang harus diluruskan dalam setiap langkah. Mungkin kita
pernah merasa berbeda saat kita shalat, saat kita belajar hanya diniatkan untuk
hal-hal berbau dunia dengan ketika kita meniatkannya untuk Allah?” Ia
memandangku, mengharap jawaban dari bibirku.
“Ia, terasa lebih indah jika semua
diniatkan untuk Allah. Lebih ikhlas saat tiba-tiba terjatuh.” Aku menjawab
tegas pertanyaan.
Teman ku tersenyum dan melanjutkan
langkahnya lebih dariku sembari menepuk pundakku.
...........
Ah, padahal setiap shalat doa iftitah
itu selalu dibaca. Kadang kita terlalu sibuk hingga shalat kita tergesa-gesa.
Hingga bait indah di antara doa iftitahpun tidak diresapi.
Naif rasanya di antara banyak keinginan
dan pengaharapan pada Sang Ilahi Rabbi tapi kita selalu lupa meluruskan niat
kita.
Yuk Luruskan niat!
......................
Untuk apa kita hidup jawabannya adalah
Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa
maatii lilahi robbil-‘aalamiin (Sesungguhnya
shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah).
Terimakasih untuk percakapan bermakna ini Ihla
Malang, 18 Agustus 2015
Sumber gambar: Dokumen Pribadi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar